Pemkot Kupang Dukung Pesparawi Perdana GMIT, Gelontorkan Rp 100 Juta dan Fasilitas Pendukung
KOTA KUPANG, Proklamator.com-- Pesparawi Sinode GMIT untuk pertama kalinya digelar di Kota Kupang. Pemerintah Kota Kupang pun turun tangan mendukung perhelatan perdana bertajuk “Simponi Persaudaraan GMIT” itu, bukan hanya melalui bantuan dana Rp100 juta, tetapi juga dukungan fasilitas dan pelayanan selama kegiatan berlangsung.Dukungan tersebut disampaikan Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, saat menerima audiensi Panitia Pesparawi Sinode GMIT di Rumah Jabatan Wali Kota Kupang, Senin (5/10). Dalam audiensi tersebut, Wali Kota Kupang didampingi Sekretaris Daerah Kota Kupang, Jefry Edward Pelt, S.H., selaku Ketua Pesparawi Sinode GMIT, Kepala Badan Keuangan dan Aset Daerah Kota Kupang, Jackson Jimmy A. Tuniliu, S.E., M.M., Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat Kota Kupang, Ivan Lenny Mila Meha, S.STP., M.M..
Turut hadir para Pendera dari Sinode GMIT, antara lain Pendeta Norman Nenohoni, Pendeta Leni Mansopu, Pendeta Heppy Radja Dima dan Pendeta Jezpi Pinat.
“ Ini pertama kali dilaksanakan. Luar biasa. Kita ikut menyumbang Rp100 juta. Ini menjadi bentuk perhatian dari Pemerintah Kota Kupang,” ujar dr. Christian.
Menurutnya, dukungan Pemkot Kupang merupakan bentuk perhatian terhadap kegiatan keagamaan yang tidak hanya memperkuat kehidupan iman, tetapi juga memberi ruang bagi pengembangan talenta, seni dan budaya masyarakat.
Karena itu, dukungan Pemkot tidak berhenti pada bantuan dana. Pemerintah Kota Kupang juga menyiapkan tenda dan sekitar 500 kursi, kendaraan operasional untuk pengangkutan peralatan, pengaturan lalu lintas melalui Dinas Perhubungan, dukungan kesehatan dan obat-obatan dari Dinas Kesehatan, serta pelayanan kebersihan selama kegiatan berlangsung.
dr. Christian juga meminta agar proses administrasi bantuan Rp100 juta dapat dipercepat sesuai ketentuan yang berlaku agar dapat segera dimanfaatkan panitia.
“ Saya berharap bantuan ini bisa segera diproses. Jangan sampai kegiatan sudah selesai baru bantuan diberikan. Teman-teman panitia membutuhkan dukungan untuk membayar kebutuhan kegiatan,” tegasnya.
Ia menilai Pesparawi perdana ini memiliki arti penting karena mempertemukan iman, seni, budaya dan talenta generasi muda. “Rindu kita supaya para pemuda dengan talenta-talenta itu dihimpun. Musik-musik daerah dan kecintaan bernyanyi tradisional dapat dikembangkan, tetapi tetap dalam nuansa rohani,” ungkapnya.
Wali Kota juga memastikan dirinya akan hadir pada pembukaan Pesparawi Sinode GMIT pada 7 Oktober 2026 mendatang.
Sekretaris Daerah Kota Kupang, Jeffry Edward Pelt, S.H., yang juga Ketua Pesparawi Sinode GMIT, menegaskan bahwa jajaran Pemkot Kupang berkomitmen memberikan dukungan maksimal agar pelaksanaan Pesparawi perdana berjalan tertib dan lancar.
Selain fasilitas utama, Pemkot juga menyiapkan sejumlah lokasi parkir alternatif untuk mengantisipasi lonjakan kendaraan dan penonton, terutama saat pembukaan.
Sejumlah fasilitas pemerintah di sekitar lokasi kegiatan akan dimanfaatkan sebagai area parkir tambahan sehingga aktivitas Pesparawi tidak mengganggu kelancaran arus lalu lintas.
Pesparawi Sinode GMIT akan berlangsung pada 7–9 Oktober 2026, dipusatkan di kompleks Kantor Sinode GMIT yang baru.
Menurut Jeffry, dukungan lintas perangkat daerah tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memastikan kegiatan perdana ini dapat berlangsung dengan baik dan memberi manfaat bagi masyarakat.
Sementara itu, Pendeta Norman Nenohoni, salah satu panitia Pesparawi Sinode GMIT, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut tidak semata-mata menjadi ajang perlombaan paduan suara.
Pesparawi dirancang sebagai ruang untuk membangun persaudaraan, mengembangkan talenta generasi muda, sekaligus memperkaya liturgi dan musik gereja.
“ Kegiatan ini bukan hanya perlombaan, tetapi juga menjadi ruang untuk membangun persaudaraan dan mengembangkan talenta,” jelasnya.
Pesparawi akan mempertandingkan dua kategori, yakni kategori umum dan musik etnik. Khusus kategori musik etnik, peserta akan membawakan lagu-lagu daerah bernuansa rohani dengan menggunakan unsur musik tradisional.
Selain perlombaan, rangkaian kegiatan juga diisi dengan simposium yang menghadirkan juri dan narasumber tingkat nasional. Forum tersebut diharapkan memberikan edukasi sekaligus kontribusi bagi pengembangan liturgi dan musik gereja.
