Hilirisasi Riset Pesisir: Mahasiswa FPKP Undana Petakan Potensi Makroalga NTT dan Manajemen Lobster di NTB
KOTA KUPANG, Proklamator.com – Fakultas Peternakan, Kelautan, dan Perikanan (FPKP) Universitas Nusa Cendana (Undana) terus memperkuat kontribusi ilmiahnya dalam pengembangan sektor kelautan dan perikanan di wilayah Indonesia Timur.Melalui serangkaian riset terapan dan praktik kerja di lapangan, para mahasiswa Program Studi Budidaya Perairan FPKP Undana sukses memetakan potensi makroalga lokal di NTT sekaligus mendalami manajemen modern budidaya lobster di Nusa Tenggara Barat (NTB).
Langkah progresif ini mempertegas peran akademisi muda Undana dalam menyajikan data ilmiah yang dibutuhkan oleh industri, sekaligus memberikan alternatif solusi ekonomi bagi masyarakat pesisir berbasis keberlanjutan lingkungan.
Pulau Kera Simpan Potensi Makroalga Bernilai Gizi Tinggi
Dari dalam daerah, mahasiswa Budidaya Perairan Undana, Ortisan Salosa Dangu Uba, berhasil mengidentifikasi spesies dan kandungan metabolit primer makroalga di perairan Pulau Kera, Kabupaten Kupang. Di bawah bimbingan Dr. Ir. Nikodemus Dahoklory, M.Si. dan Ir. Ridwan Tobuku, M.Si., riset ini berhasil memetakan lima spesies makroalga dari dua kelompok utama, yakni Rhodophyta (alga merah) dan Ochrophyta (alga cokelat). Beberapa spesies unggulan yang diidentifikasi meliputi Hydropuntia edulis, Padina australis, dan Sargassum cinereum.
Berdasarkan analisis di Laboratorium Kimia, makroalga dari perairan Pulau Kera ini terbukti menyimpan kekayaan nutrisi yang tinggi. Kandungan karbohidrat tercatat mendominasi pada kisaran 42,51–59,48 persen, disusul protein 11,07–14,60 persen, kadar air 12,94–15,00 persen, kadar abu 10,48–22,66 persen, serta lemak 3,20–5,80 persen.
Keberadaan makroalga di Pulau Kera tidak hanya penting dari aspek ekologis sebagai habitat biota laut dan pelindung pantai, tetapi juga memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai komoditas budidaya dan bahan pangan yang bernilai ekonomi bagi masyarakat,” ujar Ortisan optimistis.
Serap Ilmu Industri: Manajemen Kualitas Air Lobster KJA di Dompu
Sementara itu, perluasan kompetensi praktis dilakukan oleh Merlin A. Blegur bersama empat mahasiswa FPKP Undana lainnya, yaitu Ardito Tabun, Elfira Isu, Afra Harkai, dan Arto Ot. Mereka menyelesaikan Praktik Kerja Lapangan (PKL) intensif selama satu bulan di CV Yestoya Sejahtera Lobster Farm, Lintas Lakey, Kabupaten Dompu, NTB.
Fokus utama mereka adalah menguji manajemen kualitas air pada sistem Keramba Jaring Apung (KJA), yang menjadi faktor penentu utama kelangsungan hidup lobster. Dari hasil pemantauan rutin, parameter lingkungan makro di lokasi tersebut tercatat cukup ideal: suhu perairan berada pada kisaran 25–27°C, salinitas 30–35 ppt, dan pH 7,8–9,3.
Meski demikian, Merlin mencatat parameter kecepatan arus di teluk selatan tersebut tergolong tinggi, yakni mencapai 22–28 m/s. Kondisi arus yang kuat ini menjadi pisau bermata dua; di satu sisi menguntungkan karena memperlancar suplai oksigen dan sirkulasi air alami, namun di sisi lain berisiko meningkatkan stres pada lobster karena menguras energi untuk mempertahankan posisi tubuh, yang berpotensi menurunkan nafsu makan.
Selama di industri, para mahasiswa Undana ini tidak hanya mengamati data di atas kertas, tetapi juga terlibat langsung dalam seluruh rantai produksi operasional.
Mereka turun tangan mulai dari penyiapan pakan benih, pemecahan cangkang keong dan pemotongan ikan, pembersihan dan perakitan konstruksi KJA, perbaikan jaring robek, penyortiran (sorting), hingga proses pengemasan (packaging) komoditas lobster untuk pasar ekspor melalui Bali.
Sinergi Riset dan Pengalaman Industri demi Kesejahteraan Pesisir
Rangkaian kegiatan akademik eksternal dan internal yang dilakukan oleh mahasiswa FPKP Undana ini membawa dampak strategis yang nyata bagi akselerasi sektor maritim di Indonesia Timur.
Penggabungan antara temuan riset makroalga di Pulau Kera dan penguasaan teknologi KJA lobster di NTB menjadi modalitas penting bagi Undana untuk menyusun cetak biru (blueprint) budidaya laut terintegrasi.
Data kandungan gizi makroalga hasil riset Ortisan dapat dikembangkan lebih lanjut menjadi formulasi pakan buatan lokal.
Sementara itu, keahlian manajemen KJA yang dibawa pulang oleh Merlin dan tim dari Dompu dapat langsung diterapkan untuk mengoptimalkan potensi kelautan di NTT yang memiliki karakteristik geografis serupa.
Hilirisasi ilmu pengetahuan ini membuktikan bahwa mahasiswa Undana tidak hanya belajar secara teoritis, tetapi mampu melahirkan inovasi praktis dan menyediakan data berkala yang dapat meminimalkan risiko kerugian bagi para pembudidaya ikan dan nelayan di tingkat hulu.

