KOTA KUPANG, Proklamator.com-- Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Timur, Ambrosius Kodo, S.Sos., M.M. mengajak seluruh orang tua dan masyarakat untuk kembali menghidupkan budaya belajar di rumah melalui penerapan Gerakan Jam Belajar Masyarakat sebagaimana diatur dalam Peraturan Gubernur NTT Nomor 24 Tahun 2026.Dengan ajakan tersebut disampaikan oleh Kadis Pendidikan Provinsi NTT, Ambrosius Kodo pada saat jelaskan Pergub tentang Jam Belajar Masyarakat yang berlangsung di lanai 1 Lobi Utama Kantor Gubernur NTT pada, Jumat pagi (29/5/26), bersama para media dan sejumlah pemangku kepentingan pendidikan.
Dalam pemaparannya menegaskan bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung di sekolah, tetapi juga harus tumbuh di lingkungan keluarga dan masyarakat," ujar Ambrosius Kodo
Dengan masa depan generasi muda yang sangat ditentukan oleh budaya belajar yang dibangun sejak dini di rumah, ini sangat ditentukan oleh kualitas pendidikan dan karakter masyarakatnya," katanya.
" Karena itu, pemerintah provinsi berupaya menciptakan suasana belajar yang berlangsung terus-menerus melalui Gerakan Jam Belajar Masyarakat.
Ia menjelaskan, melalui Pergub Nomor 24 Tahun 2026, pemerintah menetapkan waktu belajar masyarakat setiap pukul 18.00 hingga 19.30 WITA. Dalam rentang waktu tersebut, anak-anak diharapkan berada di rumah bersama keluarga untuk belajar, membaca, berdiskusi, maupun memperkuat pendidikan karakter," ungkap Ambrosius Kodo.
" Ambrosius, kebijakan tersebut juga bertujuan mencegah anak-anak terlibat dalam pergaulan negatif di luar rumah pada malam hari, anak-anak dicegah dari kemungkinan-kemungkinan yang bisa menyeret mereka ke pergaulan yang tidak semestinya.
Ia juga menambahkan, keberhasilan Gerakan Jam Belajar Masyarakat tidak dapat berjalan sendiri tanpa dukungan seluruh elemen masyarakat. Karena itu, pemerintah mendorong kolaborasi antara sekolah, keluarga, masyarakat, pemerintah desa, tokoh agama, hingga media massa," pintanya.
Kita mengenal tiga pusat pendidikan, yaitu sekolah, keluarga, dan masyarakat. Ditambah media sebagai bagian penting yang ikut membangun kesadaran bersama,juga mengajak masyarakat menciptakan suasana lingkungan yang kondusif selama jam belajar berlangsung.
Ia mencontohkan agar warga tidak memutar musik dengan volume keras maupun membuat aktivitas yang mengganggu konsentrasi belajar anak-anak di lingkungan sekitar. “Kalau ada anak-anak sedang belajar, mari kita sama-sama menjaga suasana yang tenang dan nyaman,” ucapnya.
Menurutnya dengan Gerakan Jam Belajar Masyarakat juga menjadi langkah penting untuk mengurangi kesenjangan akses belajar dan membangun kembali budaya belajar yang mulai terkikis akibat pengaruh teknologi dan penggunaan gawai berlebihan.
Selama satu setengah jam anak-anak meninggalkan gadget dan membangun komunikasi hangat bersama orang tua. Di situ ada penguatan karakter, kedisiplinan, dan kasih sayang dalam keluarga,” jelasnya.
Tambah, Ambrosius Kodo ia menegaskan bahwa, keluarga memiliki peran utama dalam pendidikan anak karena sebagian besar waktu anak berada di rumah dibanding di sekolah.
" Dan anak-anak hanya beberapa jam saja di sekolah, tetapi lebih banyak berada di keluarga,karena itu, kolaborasi keluarga dan sekolah menjadi sangat penting.
Ia juga menyoroti pentingnya pendidikan karakter, kemampuan akademik, dan pengembangan jiwa kewirausahaan sebagai tiga fokus utama yang ingin diperkuat melalui kebijakan tersebut," pungkas Ambrosiys Kodo.
Selain itu, pemerintah juga membutuhkan dukungan kepala desa, RT/RW, tokoh agama, hingga tokoh masyarakat agar implementasi Pergub dapat berjalan efektif sampai ke tingkat lingkungan terkecil.
Kita butuh dukungan semua pihak agar gerakan ini benar-benar hidup di masyarakat. Gereja, tokoh agama, pemerintah desa, dan media memiliki peran besar dalam mengingatkan masyarakat,” harapmya.
" Dalam kesempatan itu,kadis Pendidikan juga menjelaskan bahwa, dengan tagline Gerakan Jam Belajar Masyarakat adalah memperkuat peran keluarga sebagai sekolah utama dan orang tua sebagai guru pertama bagi anak-anak.
Saya sebavai Kadis Pendidikan juga berharap agar kebijakan tersebut dapat menjadi gerakan bersama demi menciptakan generasi muda NTT yang berkarakter, cerdas, disiplin, dan memiliki masa depan yang lebih baik," tutup Ambrosius Kodo.
