Undana Talk. Eps 4: Bukan Sekedar Kenyang, Pakar Undana Sebut" Isi Otak dan Dompet" Penentu Kualitas Gizi Anak NTT

KOTA KUPANG, Proklamator.com - Persoalan stunting dan buruknya kualitas sumber daya manusia (SDM) di Nusa Tenggara Timur (NTT) ternyata tidak hanya bersumber dari apa yang tersaji di atas meja makan. Pakar gizi Universitas Nusa Cendana (Undana), Prof. Dr. Intje Picauly, S.Pi., M.Si., mengungkapkan bahwa kualitas “isi piring” anak-anak sangat ditentukan oleh dua faktor krusial lainnya: “isi otak” (pengetahuan orang tua) dan “isi dompet” (ketahanan ekonomi keluarga).

" Gagasan tersebut mengemuka dalam program Undana Talk Season III episode bertajuk “Masa Depan di Ujung Garpu”, Senin (2/3/26). Prof. Intje menekankan bahwa edukasi gizi harus menyasar akar masalah nonkesehatan yang justru mendominasi penyebab stunting di NTT.

Berdasarkan analisis universal terhadap 22 kabupaten/kota di NTT, tim peneliti Undana menemukan fakta mengejutkan bahwa faktor medis hanya menyumbang porsi kecil dalam masalah gizi. Sebaliknya, sekitar 70 persen pemicu stunting berasal dari sektor nonkesehatan, seperti rendahnya tingkat pendidikan ibu, pola asuh budaya yang keliru, hingga buruknya jalur distribusi pangan lokal.

“Program pemerintah seringkali hanya berhenti di depan pintu rumah. Untuk menyentuh apa yang dimasak di dapur, kita membutuhkan peran tokoh adat dan agama. Mereka adalah kunci untuk mengubah perilaku konsumsi keluarga dari ‘makan asal kenyang’ menjadi ‘makan untuk nutrisi’,” ujar Prof. Intje.

Menanggapi temuan lapangan tahun 2023 bahwa banyak anak di NTT enggan mengonsumsi ikan dan sayur, Undana melakukan inovasi hilirisasi pangan. Para peneliti menciptakan produk olahan berbahan lokal seperti biskuit protein, beras granul, dan tepung bergizi tinggi.

Inovasi ini bertujuan menyisipkan omega-3 dan mikronutrien penting ke dalam makanan kegemaran anak-anak tanpa mengubah preferensi rasa mereka secara drastis. Langkah ini dipandang sebagai strategi taktis untuk menjamin perkembangan kognitif generasi penerus di tengah tantangan pola makan.

Sebagai solusi jangka panjang, Undana memperkenalkan dua program unggulan berbasis komunitas: Rumah Komunikasi Stunting (Rukom) dan Sekolah Mandiri Pangan dan Gizi (Semanggis). Program ini telah diuji coba melalui KKN Tematik di SDN Oeklani, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS).

Mahasiswa dan dosen berkolaborasi membangun bedeng sayur, kolam lele, hingga budidaya maggot untuk pakan ternak dan pupuk cair. Tujuannya adalah menciptakan ekosistem di mana keluarga mampu memproduksi pangan bergizi sendiri sekaligus memiliki peluang usaha melalui UMKM.

“Desain Rukom dan Semanggis ini akan kami persembahkan kepada pemerintah daerah sebagai prototipe percepatan penurunan stunting. Kami ingin keluarga menengah ke bawah memiliki kemandirian ekonomi sekaligus gizi yang terjaga,” tegas Prof. Intje.

Melalui narasi ini, Undana menegaskan bahwa investasi masa depan bangsa dimulai dari ujung garpu. Dengan mengubah pola pikir masyarakat berbasis riset, Undana optimistis dapat mencetak generasi NTT yang sehat, cerdas, dan memiliki daya saing intelektual tinggi di masa depan.




BACA JUGA :