Dialog tersebut mengangkat tema “Evaluasi Satu Tahun Kepemimpinan Melki–Johni sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur NTT”. Turut hadir sebagai narasumber, Ketua DPD GAMKI NTT Winston Neil Rondo, Akademisi Universitas Katolik Widya Mandira Kupang Apolonaris Gai, dan Pengamat Ekonomi James Adam yang hadir secara daring. Dialog interaktif ini dipandu langsung oleh presenter RRI Kupang, Vongky Lete.
" Dalam pemaparannya, Gubernur Melki Laka Lena menyampaikan bahwa salah satu capaian paling signifikan dalam satu tahun terakhir adalah penurunan angka kemiskinan di NTT berdasarkan data makro terbaru.
Menurutnya, terdapat dua sektor utama yang berkontribusi besar terhadap capaian tersebut, yakni sektor pertanian dan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Sektor pertanian mengalami peningkatan yang sangat tinggi, terutama produksi gabah. Karena hampir 60 persen penduduk NTT bergerak di sektor ini dan kontribusinya terhadap PDRB mencapai hampir 30 persen, maka kenaikan ini berdampak langsung pada peningkatan pendapatan petani dan membantu menekan angka kemiskinan,” jelas Gubernur.
Selain itu, program MBG dinilai membantu masyarakat rentan, khususnya anak-anak, dalam mengakses makanan bergizi, meskipun implementasinya masih perlu diperluas hingga ke desa-desa.
" Gubernur NTT, Melki Laka Lena juga menyoroti pertumbuhan sektor pariwisata yang meningkat hampir 40 persen dari target tahunan. Sektor peternakan, kelautan dan perikanan—termasuk komoditas cakalang dan rumput laut—serta perkebunan kopi dan kakao turut menunjukkan tren positif.
Di tengah situasi global dan nasional yang tidak mudah, kerja kolaboratif semua pihak serta semangat pantang menyerah masyarakat NTT membuahkan hasil yang positif.
Capaian makro kita menunjukkan tren baik, meski kemiskinan ekstrem masih menjadi pekerjaan rumah yang harus dibenahi,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa pembangunan NTT dijalankan dengan semangat NTT Centris, yakni dengan menggandeng seluruh kabupaten/kota di NTT dalam membangun pusat-pusat pertumbuhan ekonomi yang saling terkoneksi. Pertumbuhan pariwisata di Labuan Bajo, misalnya, diharapkan turut menarik pertumbuhan di wilayah lain seperti Rote, Alor, Sumba, dan Flores secara umum.
Ketua DPD GAMKI NTT, Winston Rondo, mengapresiasi capaian makro Pemerintah Provinsi NTT yang menunjukkan tren positif, seperti pertumbuhan ekonomi meningkat, kemiskinan menurun, dan pengangguran relatif terkendali.
" Namun ia mengingatkan bahwa capaian tersebut harus diterjemahkan menjadi peluang hidup yang nyata, khususnya bagi generasi muda.
Pertumbuhan ekonomi harus mulai terasa di kantong anak muda. Tahun kedua kepemimpinan Melki–Johni harus menjadi fase penciptaan lapangan kerja baru,” tegasnya.
Akademisi Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, Apolonaris Gai, menilai bahwa dalam satu tahun kepemimpinan Melki–Johni, fokus utama diarahkan pada pembangunan fondasi tata kelola pemerintahan, dengan kecenderungan kuat pada desain good governance.
Ia juga menyoroti relasi eksekutif dan legislatif yang relatif stabil dan sangat baik, sehingga mampu mendukung agenda pembangunan daerah. Menurutnya, periode satu tahun ini merupakan fase konsolidasi yang penting dalam memperkuat arah dan stabilitas pemerintahan.
Sementara itu, pengamat ekonomi James Adam menyoroti pentingnya penguatan implementasi program One Village One Product (OVOP) agar benar-benar menghasilkan produk unggulan yang bernilai tinggi dan berkelanjutan.
" Ia juga menekankan peningkatan kualitas, promosi, harga, dan kesinambungan produksi dalam pengembangan NTT Mart yang telah tersebar di 22 kabupaten/kota.
Menanggapi berbagai masukan tersebut, Gubernur Melki menyampaikan bahwa Pemerintah Provinsi NTT tengah mempersiapkan Tim Percepatan Ekonomi Kerakyatan.
Ia menargetkan optimalisasi pemanfaatan dana Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang masuk ke NTT sebesar lebih dari Rp3,2 triliun untuk mendorong pengembangan ekonomi rakyat dan membuka lebih banyak lapangan kerja.
Kita harus membuka sebanyak mungkin lapangan pekerjaan di NTT. Potensi pertanian, perkebunan, kelautan, dan perikanan masih sangat besar dan harus terus kita optimalkan,” ungkapnya.
Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Melki Laka Lena menegaskan komitmennya terhadap keterbukaan dan kritik publik.
Sebagai aktivis yang tumbuh di tengah pergerakan bangsa dan NTT, saya meyakini bahwa kekuasaan ini milik bersama. Pemerintahan ini adalah buku terbuka yang siap dikritik oleh siapa saja. Saya dan Pak Wagub membuka diri untuk dikritik,” pungkasnya.
Dialog interaktif ini menjadi ruang refleksi satu tahun kepemimpinan Melki–Johni sekaligus wadah partisipasi publik dalam mengawal arah pembangunan Nusa Tenggara Timur ke depan.
