KOTA KUPANG, Proklamator.com– Universitas Nusa Cendana (Undana) melalui Project Mental Health UNDANA menyelenggarakan Pelatihan “Peer Support: Psychological First Aid for Students” bagi mahasiswa yang bergabung menjadi relawan di tingkat fakultas.
Pelatihan serentak ini diselenggarakan atas kerja sama Health Promoting University (HPU) UNDANA bersama Mennonite Central Committee (MCC) dan Yayasan Kerja Sama Perdamaian dan Akademik Indonesia (YKPAI).
Gelombang pertama pelatihan berlangsung di empat fakultas, yakni FKKH, FISIP, FKIP, dan FKM, serta dijadwalkan berlanjut ke lima fakultas sisanya pada 26 September dan 3 Oktober mendatang.
Langkah ini menjadi bentuk nyata komitmen universitas dalam memitigasi krisis kesehatan mental mahasiswa secara komprehensif dan responsif.
" Berdasarkan riset internal sejak 2024, ditemukan tingginya kasus gangguan kesehatan mental seperti depresi hingga indikasi bunuh diri di kalangan mahasiswa Undana.
Pembentukan Tim Peer Support hingga tingkat fakultas dan angkatan memungkinkan deteksi dini serta penanganan bantuan psikologis pertama yang cepat, dekat, dan tepat sasaran.
Dari hasil evaluasi dan penelitian yang dilakukan, kami menemukan banyak mahasiswa UNDANA yang mengalami gangguan kesehatan mental baik depresi bahkan kepikiran untuk bunuh diri,” ungkap Ketua Project Mental Health, Dr. dr. Nicholas Edwin Handoyo, M.Med.Ed.
“ Kami melakukan pendaftaran kepada mahasiswa yang tertarik untuk bergabung di Tim Peer Support lalu kami melakukan pelatihan kepada mereka selama tiga hari sebelum akhirnya mereka turun untuk memberi pembekalan kepada Tim Peer Support di tingkat fakultas.
Transisi Temuan Riset Menuju Penyusunan Kurikulum Kesehatan Mental
Inisiatif intervensi ini berakar dari rangkaian penelitian berbasis data komprehensif yang telah dihimpun Undana secara konsisten sejak tiga tahun terakhir. Penelusuran tingkat depresi mahasiswa dimulai pada 2024 melalui survei daring, dilanjutkan pemetaan resiliensi kesehatan mental pada 2025, hingga survei literasi kesehatan mental pada tahun ini.
Data empiris tersebut diproyeksikan menjadi landasan ilmiah dalam penyusunan Kurikulum Kesehatan Mental Undana.
Untuk memperkuat legalitas dan tata kelola organisasi, para relawan yang telah menyelesaikan pelatihan akan dikukuhkan sebagai Tim Peer Support tingkat fakultas melalui Surat Keputusan (SK) Wakil Rektor I Undana.
Kami berharap tim tingkat fakultas ini berada di tiap angkatan sehingga ketika ada teman mereka yang memerlukan bantuan, mereka dapat segera melakukan tindakan cepat,” jelas dr. Nicholas.
“ Tim ini juga akan melibatkan pimpinan fakultas bahkan dosen pembimbing skripsi agar dapat memberi kontribusi dalam upaya mendukung kesehatan mental di lingkungan UNDANA.
Materi Kelola Diri dan Efektivitas Pendidik Sebaya
Dalam sesi pelatihan, sebanyak 32 mahasiswa Undana yang terhimpun dalam Tim Peer Support tingkat universitas bertindak langsung sebagai pemateri bagi sejawatnya di tingkat fakultas.
Mereka terbagi dalam lima tim instruktur yang memberikan pemahaman mendalam mengenai bantuan psikologis pertama.
" Materi pelatihan difokuskan pada pengelolaan diri relawan sebelum memberikan pendampingan kepada orang lain, meliputi aspek kesadaran diri (self-awareness) untuk mengenali kapasitas diri, penerimaan diri (self-compassion), serta ketahanan emosional (resilience). Kesiapan dan kemandirian mahasiswa pendamping ini dinilai menjadi kunci utama dalam menciptakan lingkungan akademis yang aman dan inklusif.
Mereka mampu dan mandiri dalam melakukan pembekalan di tingkat fakultas dan ini di luar ekspektasi saya,” kata dr. Nicholas mengapresiasi antusiasme para mahasiswa relawan.
Melalui hadirnya pelatihan peer support yang terintegrasi di tingkat universitas dan fakultas, Undana optimistis dapat mewujudkan ekosistem kampus yang aman, ramah psikologis, dan nyaman bagi seluruh sivitas akademika.
Langkah ini menjadi bentuk nyata komitmen universitas dalam memitigasi krisis kesehatan mental mahasiswa secara komprehensif dan responsif.
" Berdasarkan riset internal sejak 2024, ditemukan tingginya kasus gangguan kesehatan mental seperti depresi hingga indikasi bunuh diri di kalangan mahasiswa Undana.
Pembentukan Tim Peer Support hingga tingkat fakultas dan angkatan memungkinkan deteksi dini serta penanganan bantuan psikologis pertama yang cepat, dekat, dan tepat sasaran.
Dari hasil evaluasi dan penelitian yang dilakukan, kami menemukan banyak mahasiswa UNDANA yang mengalami gangguan kesehatan mental baik depresi bahkan kepikiran untuk bunuh diri,” ungkap Ketua Project Mental Health, Dr. dr. Nicholas Edwin Handoyo, M.Med.Ed.
“ Kami melakukan pendaftaran kepada mahasiswa yang tertarik untuk bergabung di Tim Peer Support lalu kami melakukan pelatihan kepada mereka selama tiga hari sebelum akhirnya mereka turun untuk memberi pembekalan kepada Tim Peer Support di tingkat fakultas.
Transisi Temuan Riset Menuju Penyusunan Kurikulum Kesehatan Mental
Inisiatif intervensi ini berakar dari rangkaian penelitian berbasis data komprehensif yang telah dihimpun Undana secara konsisten sejak tiga tahun terakhir. Penelusuran tingkat depresi mahasiswa dimulai pada 2024 melalui survei daring, dilanjutkan pemetaan resiliensi kesehatan mental pada 2025, hingga survei literasi kesehatan mental pada tahun ini.
Data empiris tersebut diproyeksikan menjadi landasan ilmiah dalam penyusunan Kurikulum Kesehatan Mental Undana.
Untuk memperkuat legalitas dan tata kelola organisasi, para relawan yang telah menyelesaikan pelatihan akan dikukuhkan sebagai Tim Peer Support tingkat fakultas melalui Surat Keputusan (SK) Wakil Rektor I Undana.
Kami berharap tim tingkat fakultas ini berada di tiap angkatan sehingga ketika ada teman mereka yang memerlukan bantuan, mereka dapat segera melakukan tindakan cepat,” jelas dr. Nicholas.
“ Tim ini juga akan melibatkan pimpinan fakultas bahkan dosen pembimbing skripsi agar dapat memberi kontribusi dalam upaya mendukung kesehatan mental di lingkungan UNDANA.
Materi Kelola Diri dan Efektivitas Pendidik Sebaya
Dalam sesi pelatihan, sebanyak 32 mahasiswa Undana yang terhimpun dalam Tim Peer Support tingkat universitas bertindak langsung sebagai pemateri bagi sejawatnya di tingkat fakultas.
Mereka terbagi dalam lima tim instruktur yang memberikan pemahaman mendalam mengenai bantuan psikologis pertama.
" Materi pelatihan difokuskan pada pengelolaan diri relawan sebelum memberikan pendampingan kepada orang lain, meliputi aspek kesadaran diri (self-awareness) untuk mengenali kapasitas diri, penerimaan diri (self-compassion), serta ketahanan emosional (resilience). Kesiapan dan kemandirian mahasiswa pendamping ini dinilai menjadi kunci utama dalam menciptakan lingkungan akademis yang aman dan inklusif.
Mereka mampu dan mandiri dalam melakukan pembekalan di tingkat fakultas dan ini di luar ekspektasi saya,” kata dr. Nicholas mengapresiasi antusiasme para mahasiswa relawan.
Melalui hadirnya pelatihan peer support yang terintegrasi di tingkat universitas dan fakultas, Undana optimistis dapat mewujudkan ekosistem kampus yang aman, ramah psikologis, dan nyaman bagi seluruh sivitas akademika.
