Pangkas Stigma Rumah Sakit Sepi, RSU Undana Resmi Layani Pasien BPJS Kesehatan


KOTA KUPANG, Proklamator.com– Rumah Sakit Umum (RSU) Universitas Nusa Cendana (Undana) resmi membuka babak baru dalam peta pelayanan kesehatan di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Mulai Juni 2026, rumah sakit kebanggaan Undana ini bertransformasi menjadi Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL) yang melayani seluruh peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dari BPJS Kesehatan.

Kepastian perluasan akses tersebut ditandai melalui Grand Opening Pelayanan BPJS Kesehatan yang digelar langsung di RSU Undana, kawasan Naikoten, Kota Kupang, pada Rabu (17/6/26)..

Peresmian ini dihadiri oleh jajaran rektorat Undana, perwakilan lintas sektor dari Pemprov NTT, DPRD, TNI/Polri, serta otoritas BPJS Kesehatan.

Perjuangan Tiga Periode Kepemimpinan dan Tiga Kali Pengajuan

Langkah RSU Undana menembus jaringan kemitraan BPJS Kesehatan bukan perkara mudah. Kerja sama ini menjadi titik kulminasi dari perjuangan panjang sejak awal pembangunan fisik gedung pada tahun 2018, yang menguras energi dan melibatkan tiga periode kepemimpinan rektor di Undana.

Direktur RSU Undana, dr. Efrisca M. Br. Damanik, M.Biomed., Sp.PA., MM., membeberkan bahwa manajemen harus melewati pembenahan internal yang masif untuk memenuhi standar keselamatan pasien dan akreditasi ketat.

Pihaknya bahkan tercatat harus melakukan pengajuan kerja sama hingga tiga kali ke BPJS Kesehatan sebelum akhirnya dinyatakan lolos verifikasi kualifikasi standar pelayanan.

Kemitraan ini sekaligus mematahkan stigma miring yang sempat melekat pada fasilitas medis tersebut.

" Dulu tempat ini sempat menghadapi stigma masyarakat sebagai bangunan sunyi, tidak berkembang, dan sepi aktivitas.

Namun, hari ini kami bersyukur tempat yang dahulu dianggap sepi kini berubah menjadi tempat yang ramai, tempat di mana masyarakat datang untuk menjemput harapan baru dan kesembuhan,” ungkap dr. Efrisca.

Instruksi Rektor: Haram Menolak Pasien karena Masalah Biaya

Merespons pencapaian tersebut, Rektor Undana, Prof. Dr. Ir. Jefri S. Bale, S.T., M.Eng., memberikan instruksi keras dan tegas kepada jajaran manajemen serta seluruh tenaga kesehatan (nakes). Ia menggarisbawahi bahwa aspek kemanusiaan wajib ditaruh di atas segala-galanya.

“ RSU Undana bukanlah lembaga yang berorientasi pada keuntungan semata. Haram hukumnya jika ada masyarakat yang datang ke sini tetapi gagal mendapatkan pertolongan medis hanya karena kendala biaya atau persoalan administrasi,” tegas Prof. Jefri Bale

Ia meminta para nakes, yang sebagian besar diisi oleh para tenaga klinis dan akademisi dari Fakultas Kedokteran Undana, untuk menerapkan budaya kerja ramah, penuh empati, dan melayani dengan hati.

Selain pengobatan medis modern, RSU Undana kini juga mengintegrasikan pendekatan rohani guna membantu penguatan mental dan spiritual pasien selama masa pemulihan.

Dukungan Regional dan Penguatan Dokter Spesialis

Apresiasi tinggi datang dari Wakil Gubernur NTT, Irjen Pol. Dr. Johni Asadoma, S.H., M.Hum. Menurutnya, RSU Undana memiliki nilai tawar strategis karena berstatus sebagai rumah sakit pendidikan yang terkoneksi langsung dengan Fakultas Kedokteran Undana.

Institusi ini diharapkan tidak sekadar menjadi tempat berobat, tetapi menjadi inkubator yang melahirkan dokter-dokter spesialis baru berkualitas tinggi yang sangat dibutuhkan untuk mengisi kekosongan fasilitas medis di berbagai pelosok NTT.

Senada dengan hal itu, Kepala BPJS Kesehatan Cabang Kupang, dr. Ario Trisaksono, S.H., M.H., menilai kehadiran RSU Undana akan memperlebar daya tampung faskes lanjutan di Kota Kupang.

" Ia mengingatkan bahwa parameter keberhasilan kemitraan ini akan diukur langsung dari indeks kepuasan peserta JKN yang datang berobat.

Sebagai bentuk selebrasi atas dibukanya layanan baru ini, manajemen RSU Undana langsung menggelar aksi bakti sosial pelayanan medis gratis bagi masyarakat umum yang dilaksanakan berkala setiap siang hari selama tiga hari berturut-turut.

Solusi Pengurai Antrean Pasien di Ibu Kota Provinsi

Resminya RSU Undana menjadi mitra BPJS Kesehatan membawa dampak domino yang sangat krusial bagi konstelasi pelayanan kesehatan di NTT.

Selama ini, Kota Kupang sebagai pusat rujukan utama kerap mengalami penumpukan pasien pada beberapa rumah sakit pemerintah tertentu, yang berdampak pada panjangnya masa tunggu operasi dan rawat inap bagi masyarakat kelas menengah ke bawah.

Dibukanya pintu RSU Undana bagi pasien BPJS otomatis mengurai beban kepadatan (overload) antrean medis tersebut. Bagi masyarakat NTT, integrasi ini memberikan opsi alternatif faskes rujukan yang komprehensif, mengingat rumah sakit ini disokong langsung oleh infrastruktur laboratorium ilmiah dan jajaran dokter spesialis dari Fakultas Kedokteran Undana, sehingga mutunya setara dengan layanan komersial non-BPJS. 


BACA JUGA :