Buka Kompetisi Robotik Perdana di NTT, Wakil Wali Kota Kupang Dorong Anak Muda Jadi Pencipta Tekonlogi
KOTA KUPANG, Proklamator.com-- Wakil Wali Kota Kupang, Serena Cosgrova Francis, S.Sos., M.Sc., membuka secara resmi kegiatan Opening Ceremony Filosi Robotic Competition 2026 yang berlangsung di Aula BPVP Kementerian Ketenagakerjaan, Rabu (20/5/26).Ajang ini menjadi kompetisi robotik pertama berskala besar di Nusa Tenggara Timur yang mempertemukan dunia pendidikan, pemerintah, akademisi, dan komunitas teknologi dalam satu gerakan bersama membangun generasi inovator muda di daerah.
Hadir dalam kegiatan tersebut Direktur PT. Filosi Exider Inovasi sekaligus Founder Logosi Institute, Erwin Alexander, Co-Founder dan Manager Logosi Institute, Virginia Da Silva, S.Pd., M.Pd., Koordinator Satpel Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Kupang, Wilfrianus Sabon Tawa, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi NTT, Ambrosius Kodo, S.Sos., M.M., Wakil Rektor I Universitas Widya Mandira Kupang, Dr. Samuel Igo Leton, Wakil Rektor II Universitas Timor, Dr. Marsianus Falo, S.P., M.Si., Kaprodi Budidaya Tanaman Perkebunan Fakultas Vokasi Logistik Militer Universitas Pertahanan Republik Indonesia, Kolonel TNI Victor Yunior De Araujo, serta Direktur Yayasan Citra Bina Insan Mandiri, Dr. Ir. Samuel A.M. Littik, M.Sc., M.M.
Dalam sambutannya, Serena menegaskan bahwa kehadiran kompetisi robotik ini bukan sekadar perlombaan teknologi, tetapi sebuah titik awal perubahan cara berpikir generasi muda NTT dalam menghadapi masa depan.
“ Hari ini, untuk pertama kalinya, kita berdiri bersama menyaksikan kompetisi teknologi robotik. Budaya adalah akar kita, tetapi teknologi adalah sayap kita untuk terbang menuju masa depan,” ungkapnya.
Menurutnya, Filosi Robotic Competition 2026 menjadi bukti bahwa anak-anak muda NTT tidak pernah kekurangan ide dan semangat untuk berinovasi.
Ia menilai, dunia saat ini tidak lagi hanya membutuhkan lulusan dengan gelar akademik, tetapi generasi yang kreatif, berani memecahkan masalah, dan mampu menciptakan solusi nyata.
“ Apa yang terjadi hari ini bukan sekadar perlombaan robot biasa. Ini adalah gerakan. Kita ingin anak-anak muda NTT tidak hanya menjadi penonton perkembangan teknologi, tetapi tampil sebagai pencipta dan inovator,” tegasnya.
Serena juga menyoroti pentingnya penguasaan teknologi dalam menjawab persoalan riil masyarakat, termasuk di sektor pertanian. Menurutnya, teknologi harus mampu menghadirkan perubahan nyata bagi kesejahteraan masyarakat NTT.
Kalau dulu petani kita bekerja secara tradisional dengan hasil terbatas, maka dengan teknologi produktivitas bisa meningkat berkali-kali lipat. Teknologi harus menjadi jawaban untuk kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Ia juga menitipkan pesan khusus kepada generasi muda terkait penggunaan Artificial Intelligence (AI). Menurutnya, AI harus dijadikan alat untuk memperkuat kreativitas, bukan menggantikan kemampuan berpikir manusia.
“ Jadikan AI sebagai pemantik ide, tetapi jangan biarkan AI mengambil alih fungsi otakmu. Kita harus mengendalikan teknologi, bukan dikendalikan teknologi,” pesannya.
Pemerintah Kota Kupang, lanjut Serena, berkomitmen mendukung ruang-ruang kreatif dan pengembangan teknologi bagi generasi muda agar akses terhadap pendidikan teknologi semakin terbuka luas di NTT.
Sementara itu, Founder Logosi Institute, Erwin Alexander, menjelaskan bahwa minimnya minat dan literasi robotik di NTT menjadi alasan utama lahirnya Filosi Robotic Competition 2026. Kompetisi ini dirancang terbuka mulai dari tingkat SD, SMP, SMA hingga kategori umum.
“ Ini bukan hanya lomba, tetapi gerakan memperkenalkan teknologi sejak dini kepada anak-anak dan generasi muda di NTT,” jelasnya.
Beragam kategori lomba disiapkan sesuai jenjang pendidikan. Peserta tingkat SD akan diperkenalkan pada perakitan robot sederhana berbasis permainan edukatif, tingkat SMP membuat smart obstacle car atau mobil penghindar rintangan, sementara tingkat SMA ditantang menciptakan sistem robotik yang mampu menjawab persoalan di NTT. Untuk kategori umum, peserta akan mengikuti lomba line follower.
Erwin menambahkan, seluruh peserta juga mendapatkan akses workshop gratis sebelum kompetisi berlangsung. Pelatihan tersebut menghadirkan pembimbing dari sejumlah perguruan tinggi di NTT seperti Undana, Unwira, dan Unimor guna membantu peserta memahami dasar robotika, coding, hingga demonstrasi teknologi.
Koordinator Satpel BPVP Kupang, Wilfrianus Sabon Tawa, turut menyampaikan bahwa kehadiran kompetisi seperti ini sangat penting dalam membangun sumber daya manusia di bidang teknologi di NTT.
" Menurutnya, tantangan terbesar selama ini adalah masih adanya anggapan bahwa robotik merupakan bidang yang rumit dan mahal.
Namun, melalui berbagai demonstrasi teknologi sederhana seperti tempat sampah otomatis dan sistem rumah pintar, minat pelajar terhadap robotika mulai tumbuh signifikan.
Usai membuka kegiatan Wakil Wali Kota bersama tamu undangan lainnya berkesempatan melihat secara langsung hasil karya robotic yang ditampilkan para peserta.
Kompetisi ini diharapkan menjadi langkah awal membangun ekosistem teknologi yang kuat sekaligus membuka jalan lahirnya generasi muda NTT yang siap bersaing di masa depan.

