Gubernur NTT, Melki Laka Lena: Perawat Adalah Ujung Tombak Transformasi Kesehatan dan Jangan Takut Go Internasional

MAUMERE, Proklamator.com-- Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena, melakukan kunjungan kerja sekaligus memberikan kuliah umum di STIKES St. Elisabeth Keuskupan Maumere pada, Kamis (12 /2/26).


" Dalam suasana akrab, Gubernur Melki menekankan pentingnya transformasi mental dan kualitas pelayanan bagi tenaga kesehatan di NTT demi menghadapi tantangan global.

Meski awalnya dijadwalkan membawakan materi teknis mengenai "Situasi Kesehatan Provinsi NTT Tahun 2025", Melki memilih untuk berbagi perspektif mengenai Undang-Undang Kesehatan Omnibus Law.

Sebagai sosok yang memimpin pembahasan Undang-Undang tersebut di DPR RI, ia menjelaskan bahwa aturan baru ini lahir untuk menyatukan sektor kesehatan yang sebelumnya terfragmentasi.

Undang-Undang ini melebur 11 undang-undang untuk menghilangkan ego sektoral. Di luar negeri, dokter, perawat, bidan, dan ahli gizi itu setara, saling bersinergi. Itulah yang ingin kita ubah di Indonesia. Tidak ada lagi profesi yang merasa lebih tinggi dari yang lain," tegas Gubernur NTT, Melki.

Gubernur NTT, Melki memberikan catatan khusus bagi para mahasiswa keperawatan. Menurutnya, kualitas seorang perawat tidak hanya diukur dari kemampuan teknis, tetapi dari keramahan (hospitality).

" Ia merujuk pada kesuksesan rumah sakit di Penang, Malaysia, yang diminati orang Indonesia karena keramahan perawatnya.

Kualitas perawat menentukan kualitas pelayanan kesehatan di republik ini. Jangan sampai perawat 'muka asam', itu bahaya bagi kesembuhan pasien. Sebagaimana pesan tokoh NTT, Ben Mboi, perlakukanlah pasien seperti saudara sendiri. Tugas kesehatan adalah tugas kemanusiaan yang mendatangkan kebahagiaan," katanya.

Terkait lapangan kerja, Gubernur mengakui adanya tantangan besar di NTT. Dengan produksi lulusan perawat yang sangat tinggi, pasar kerja lokal di tingkat kabupaten maupun provinsi kini sudah sangat terbatas. Namun, Melki melihat peluang besar di kancah internasional.

" Ada kebutuhan 14 juta perawat di seluruh dunia. Lulusan Stikes St. Elisabeth, atau yang dikenal dengan Akper Lela, adalah lulusan bermerek. Kalian punya modal ketangguhan dan religiusitas yang tinggi. Jangan hanya bermimpi jadi PNS," ujar Gubernur NTT, Melki

Ia mengapresiasi langkah institusi yang telah membuka jalur penempatan ke Jepang. Gubernur NTT, Melki mendorong mahasiswa untuk berani mendobrak batas geografis dengan memperkuat kemampuan bahasa asing agar bisa menembus pasar dunia, seperti di Amerika Serikat atau Eropa.

Menutup arahannya, Gubernur NTT, Melki Laka Lena berbagi pengalaman pribadinya. Ia mengisahkan bagaimana ia berani melepas status PNS demi mengejar pengabdian yang lebih luas hingga akhirnya menjadi Gubernur.

Bermimpilah yang tinggi. Jika kalian ingin sukses, buatlah terobosan, jadilah caregiver di kota besar atau masuk ke dunia internasional. Lulusan Elisabeth sudah membuktikan mereka layak di pentas dunia. Sebagai Gubernur NTT saya bangga. Sejak bernama SPK Lela, saya sudah tahu kualitas sekolah ini,” pungkasnya.

Ketua Yayasan Stikes St. Elisabeth Keuskupan Maumere, Maria Kornelia Tinggi Kuwa, dalam sambutannya mengungkapkan rasa syukur dan bangga atas kehadiran orang nomor satu di NTT tersebut.

Menurutnya, kunjungan ini merupakan bentuk perhatian nyata pemerintah terhadap institusi pendidikan swasta di daerah.

Kedatangan perdana Bapak Gubernur di kampus ini adalah sebuah rezeki dan kebanggaan besar bagi kami. Di bawah naungan Yayasan Santo Lukas Keuskupan Maumere, kami terus berupaya menghidupi moto 'Serviam in caritate' atau melayani dalam kasih,” ujar Maria.

Ia menjelaskan bahwa Stikes St. Elisabeth merupakan institusi yang terus bertransformasi. Berawal dari Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) hingga menjadi Akper St. Elisabeth Lela pada 2008, institusi ini resmi berubah bentuk menjadi Stikes pada tahun 2024.

" Saat ini, tercatat sebanyak 643 mahasiswa (semester ganjil 2025/2026) menimba ilmu di sana, yang berasal dari berbagai daerah seperti Flores, Sabu, hingga Timor.

Stikes St. Elisabeth kini mengelola tiga program studi strategis yang dirancang untuk menjawab kebutuhan pasar kerja modern:

1. Sarjana Fisioterapi: Merupakan prodi fisioterapi pertama di NTT. Hadirnya prodi ini didasari data kelangkaan tenaga fisioterapis yang rata-rata hanya berjumlah 20 orang di tiap kabupaten.

2. Sarjana Informatika Medis: Menjadi prodi pertama di NTT dan salah satu dari hanya 19 prodi serupa di Indonesia.

3. D3 Keperawatan: Prodi senior yang menjadi ujung tombak vokasi dan telah teruji kualitasnya.

Kami tidak hanya mencetak lulusan untuk pasar lokal. Kami membuktikan bahwa anak-anak NTT mampu bersaing di panggung dunia. Saat ini, 28 lulusan kami sedang berproses untuk penempatan di Jepang, dan alumni lainnya tengah mengikuti program triple win melalui lembaga GIZ Jerman,” pinta Maria.

Dalam kesempatan tersebut, Maria menyampaikan "suara hati" pihak kampus kepada Gubernur. Ia berharap sinergi antara pemerintah pusat, provinsi, dan daerah dengan institusi swasta dapat semakin erat, terutama dalam menjaga mutu akreditasi menuju standar unggul.

" Pihak yayasan juga menitipkan harapan agar kebijakan hibah beasiswa NTT yang telah berjalan sejak 2020 dapat terus berlanjut dan ditingkatkan kuotanya.

Selain itu, apresiasi disampaikan atas hibah sarana prasarana sebesar Rp50 juta yang telah dialokasikan sebelumnya untuk pengadaan fasilitas penunjang belajar.

Kehadiran Bapak Gubernur adalah bukti bahwa pemerintah hadir dan peduli pada masa depan mahasiswa kami. Dukungan kebijakan Bapak akan menjadi bahan bakar bagi kami untuk mencapai standar pendidikan yang unggul,” pungkasnya.

Mendampingi Gubernur NTT dalam kunjungan tersebut adalah Wakil Ketua DPRD Provinsi NTT, Petrus B. Roby Tulus Bapa, dan Kepala Biro Perekonomian dan Administrasi Pembangunan, Selfi H. Nange.


BACA JUGA :