Eben Domaking : “Membangun Kesadaran Bersama dalam Menghadapi Ancaman HIV/AIDS di Kota Kupang”

Penulis : Eben Domaking (Pengamat Sosial & Pegiat Pers Kota Kupang)

KOTA KUPANG, Proklamator.com - HIV/AIDS bukan lagi isu kesehatan semata, tetapi juga persoalan sosial yang mencerminkan pola hidup, tingkat edukasi, hingga kebijakan publik dalam suatu daerah. 

Kota Kupang hari ini sedang menghadapi kenyataan bahwa kasus HIV/AIDS terus ditemukan meningkat dari tahun ke tahun.

Namun yang lebih mengkhawatirkan bukan hanya jumlahnya, tetapi rendahnya kesadaran kolektif bahwa ini adalah masalah bersama, bukan sekadar urusan tenaga kesehatan.

Sebagai pengamat sosial sekaligus pegiat pers di Kota Kupang, saya melihat bahwa HIV/AIDS telah memberikan dampak sosial yang cukup signifikan. 

Mulai dari stigma kepada orang dengan HIV/AIDS (ODHA), terputusnya relasi sosial, hingga munculnya rasa takut yang sering kali berlebihan di tengah masyarakat. 

Sayangnya, stigma itu justru sering membuat ODHA enggan untuk memeriksakan diri atau menjalani pengobatan yang pada akhirnya memperburuk penyebaran.

Dampak Sosial dan Kesehatan yang Tak Bisa Diabaikan

1. Stigma dan diskriminasi masih menjadi hambatan terbesar. Banyak ODHA kehilangan pekerjaan, dijauhi lingkungan, bahkan ditutup akses sosialnya.

2. Kualitas hidup menurun, bukan hanya karena penyakit, tetapi akibat tekanan sosial.

3. Meningkatnya kelompok berisiko, seperti remaja dan pekerja informal, karena kurangnya edukasi yang tepat dan terbuka.

Jika Kota Kupang ingin menekan laju penyebaran HIV/AIDS, maka masyarakat harus mengubah cara pandang terhadap ODHA. Mereka bukan ancaman, melainkan sesama manusia yang membutuhkan dukungan untuk menjalani pengobatan dan tetap produktif.

Pencegahan: Edukasi Harus Menjadi Arus Utama

Pencegahan HIV/AIDS tidak cukup hanya dengan pembagian brosur atau seminar sesaat. Kita membutuhkan pendekatan edukatif yang konsisten, terutama bagi tiga kelompok:

1. Remaja dan pelajar, yang perlu informasi jujur dan ilmiah tentang kesehatan reproduksi.

2. Pekerja dunia malam, yang rentan karena situasi kerja dan kurangnya akses edukasi kesehatan seksual.

3. Komunitas keluarga, sebagai ruang pertama untuk membangun nilai dan pemahaman kesehatan.

Sekolah, gereja, komunitas, hingga keluarga harus mulai berani berbicara tentang HIV/AIDS tanpa tabu. Kota Kupang membutuhkan model edukasi yang humanis, mudah dipahami, dan berkelanjutan.

Solusi: Kolaborasi, Bukan Saling Menyalahkan

HIV/AIDS tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak. Pemerintah membutuhkan dukungan masyarakat; masyarakat membutuhkan kehadiran lembaga kesehatan; dan ODHA membutuhkan lingkungan yang aman untuk menjalani terapi. Beberapa langkah yang sangat mungkin dilakukan adalah:

1. Memperluas layanan tes HIV gratis dan rahasia, terutama di puskesmas dan titik-titik komunitas.

2. Mengaktifkan kembali kampanye anti-stigma, bukan hanya di media, tetapi juga di ruang publik dan sekolah.

3. Mengoptimalkan peran media lokal, termasuk pers, untuk menghadirkan pemberitaan informatif dan tidak sensasional.

4. Mendorong dunia usaha dan kelompok pemuda agar terlibat dalam kampanye edukasi.

5. Memastikan akses ARV mudah dan tidak diskriminatif, sehingga ODHA merasa aman menjalani pengobatan.

HIV/AIDS adalah Masalah Kita Bersama

Kota Kupang hanya bisa keluar dari ancaman HIV/AIDS jika semua pihak bergerak. Pemerintah, masyarakat, lembaga agama, komunitas pendidikan, pers, hingga keluarga harus memikul tanggung jawab moral yang sama. 

Ini bukan isu yang harus dibisukan, melainkan persoalan yang harus dipahami dan diselesaikan bersama.

Sebagai warga Kota Kupang, kita harus mulai melihat HIV/AIDS bukan sebagai aib, tetapi sebagai tantangan sosial yang memerlukan keberanian untuk peduli. ****



BACA JUGA :