Pemuda Dan Pelajar, Generasi Penerus Penjajah?

Jakarta, proklamator.com Penjajah. Pada rentang abad 17 hingga awal abad 20, Nusantara menjadi sebuah lapangan pertandingan kekuatan negeri-negeri imperialis eropa, tercatat Belanda, Denmark, Portugis, Inggris, Spanyol dan lain-lain. Negara-negara tersebut saling berebut rempah-rempah dan kekayaan alam Nusantara lainnya. Mulai dengan senyum manis hingga Nusantara dijadikan lahan perang.

nyungsang.wordpress.com
nyungsang.wordpress.com

Pada awal abad 17 Belanda masuk ke Indonesia melalui VOC, melalui hak monopoli yang diberikan oleh parlemen Belanda tahun 1602, VOC bekerja memonopoli rempah-rempah di Nusantara melalui pusat kekuasaannya di Batavia (Jakarta). Korporasi hadir dengan memberikan lapangan kerja bagi rakyat Indonesia, sehingga banyak kerajaan tertarik dan turut andil dengan VOC mengekspoitasi rempah-rempah. Pada tahun 1619 VOC juga tak segan-segan mengimpor para pedagang dari Tiongkok untuk bekerjasama mengeksploitasi Indonesia.

Puluhan kerajaan di Nusantara mulai saling berperang dan runtuh secara teratur, sementara rakyat di Nusantara hidup tanpa kepemimpinan negara, itupun hanya bagi rakyat yang tak mau mengakui penjajah, sementara sebagian birokrat kerajaan bekerjasama dengan penjajah melakukan eksploitasi.

Kemudian pada akhir abad 18, timbullah kesadaran untuk merdeka yang lahir dari kepayahan hidup, yang akhirnya dibawah kepemimpinan Sukarno dan para ulama, Bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya. Namun kemerdekaan itu dihinakan dengan perundingan Konferensi Meja Bundar. Saat itu pulalah, Indonesia menjadi sebuah negeri yang hanya mampu sampai didepan pintu gerbang kemerdekaan namun sejatinya sama-sekali belum berada di alam merdeka.

Pemuda Dan Pelajar

Pada 28 Oktober 1928, Para pemuda Indonesia yang sadar akan persatuan nasional sebagai syarat untuk mengumpulkan kekuatan perlawanan, melahirkan sebuah bangsa Indonesia, yang terangkum dalam sumpah pemuda. Setelah itu, mulailah sebuah perlawanan nasional yang lebih tertib dan teratur untuk mengangkat harkat dan martabat rakyat Indonesia mensejajarkan dirinya dengan bangsa lainnya.

Perlulah diakui dengan jujur, bahwa kemerdekaan Indonesia tidak lepas dari para intelektual muda yang sekolah diluar negeri, baik itu diarab dan eropa. Namun selepas sekolah para intelektual muda ini melakukan sebuah pembangkangan, melepas semua kepentingan asing di Indonesia. Mereka menjadi pelopor penggerak gerakan-gerakan perlawanan.

Namun kemudian, saat ini Indonesia kembali kepada puncak penguasaan negara oleh korporasi asing, sehingga kekayaan hanya berputar-putar disegelintir orang, negara menjadi tidak berdaulat atas nama investasi, bahkan konon lapangan pekerjaan-pun kembali dikuasai oleh asing. Negara kalah berunding sehingga keuntungan secara besar-besaran dibawa ke negeri asal korporasi, sementara rakyat Indonesia tetap berada dalam kepayahan. Persis seperti abad 17 dimana Sultan Ageng Tirtayasa dibantu pihak asing mencapai kejayaannya, seperti juga Sultan Hasanudin di Makassar yang dipaksa menandatangi kontrak perdagangan oleh Inggris, itupun Sultan Hasanudin tetap melakukan perlawanan.

Dalam kondisi ini penulis membagi Pemuda dan Pelajar kepada beberapa golongan;

  1. Pemuda dan Pelajar yang tidak peduli

Pemuda dan Pelajar yang tidak peduli akan nasib bangsa ini, terdiri dari berbagai macam kelas dan sebab-sebab tertentu, ada yang disebabkan oleh sudah bosan dengan berita yang berisi intrik-intrik politik yang nyatanya tidak membawa negara pada kedaulatan, ada yang fokus dan konsen pada nilai akademik yang semakin menekan isi kantong dan kepala, ada juga yang hanya sebatas terlenakan oleh hiburan yang disiarkan televisi dari bangun hingga kembali tidur.

  1. Pemuda dan Pelajar Penerus Penjajah

Pemuda dan Pelajar pada golongan kedua ini biasanya terdiri dari kelas menegah ke atas, karena untuk menjadi penerus penjajah haruslah memiliki akses kepada penjajah tersebut. Golongan ini biasanya didorong oleh kebutuhan materi dan keinginan untuk dilihat “lebih”. Dengan jiwa penjilatnya golongan ini mengundang investor asing untuk menguasai negeri, ada juga yang menjilat asing dengan isu-isu internasional yang dibawa ke Indonesia untuk menghantam kekuatan Nasional. Bahkan ada yang menjadikan dirinya bersifat selayaknya penjajah, dimana mereka mendukung-program pemerintah yang mematikan rakyat miskin seperti penggusuran kaum miskin kota, memalak rakyat dengan BPJS, dan program-program khas penjajah lainnya.

  1. Pemuda dan Pelajar penerus Perjuangan

Walaupun amat langka, namun sedikit demi sedikit golongan ini lahir, mereka adalah kaum penggerak, melalui komunitas dan organisasinya, mereka mendidik rakyat untuk aktif terlibat aktif dalam politik, memperjuangkan nasibnya. Mereka sering dicap sebagai penggerutu yang tidak produktif dalam pembangunan, bahkan tak sedikit dijadikan sebagai musuh negara.

Menurut Ishak Rafick dalam “Jalan Pintas Mencegah Revolusi Sosial” mengatakan bahwa Indonesia akan menjadi sebuah bangsa yang membebani dunia. Bonus demografi umur produktif (Pemuda) akan menjadi ancaman jika tidak diberdayakan secara tepat. Ini akan membawa Indonesia seperti negara-negara miskin dimana helikopter-helikopter asing datang memberikan makanan langsung dari helikopternya karena takut besi-besi helikopter tersebut ikut dimakan.

Disebalaik rumitnya permasalahan bangsa ini, menjadi pemuda pelajar pelanjut api revolusi adalah pilihan, Tan Malaka pernah berujar, Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki pemuda. Lantas berada digolongan manakah kita sekarang?

Penulis;

Yazid Qulbuddin

Pengurus Besar Pelajar Islam Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *